Selasa, 02 Desember 2008

Pohon Pinus/ Cemara dan manfaatnya bagi Warga Desa



Hutan Cemara
Hugh…..
Nikmat sekali rasanya meghirup segarnya aroma cemara di pagi hari , di iringi riangnya kicauan burung burng kecil di dahan
Ooohhhhh…
Sungguh indah hidup ini jika semua ini akan tetap seperti ini sampai nanti anak cucuku lahir, agar mereka bisa menikmatinya juga seperti aku sekarang dan bukan lagi menjadi suatu cerita lalu bagi mereka.

Perkebunan Pinus di Desaku memang sangat luas bahkan aku gak tau berapa tepatnya luas area tanah perkebunan PT. Perhutani yang kesemuaanya di Tanami pohon Pinus.Pohon pinus selain memberikan keindahan bagi yang melihatnya juga mendatangkan manfaat kepada masyarakat di desaku,hampir dari semua bagian dari pohon pinus itu bisa di manfaatkan dan punya nilai ekonomi yang lumayan bagi warga desaku.

Dari Pohon pinus sebenernya yang di ambil oleh PT Perhutani itu adalah getahnya,dan getah pinus itulah yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di banding bagian pohon lainnya.Pohon Pinus di anggap produktif kalo sudah berumur sekitar 10 sampe 15 tahun namun itu masih belum maksimal tapi sudah bisa di hasilkan getah yang bagus walaupun hasilnya tidak begitu banyak.

Karena untuk mendapatkan getah itu pohon pinus harus di sadap (di coak bagian pohonnya pake alat khusus ), maka pihak Perhutani mempersilahkan kepada warga desa untuk menyadap pohon pinus dengan luas area masing masing penyadap yang berbeda beda, dan masyarakatpun tidak mensia siakan kesempatan ini, bahkan hampir dari semua warga yang jadi penyadap pekerjaan ini di jadikan pekerjaan utama mereka dan di jadikan tumpuan ekonomi keluarga mereka.

Apakah para penyadap itu di gaji oleh Perhutani ?, tentu saja tidak ,penyadap hanya mengumpulkan getah dan menjualnya ke Tempat Penimbanga( TP ). Perhutani menetapkan harga perkilogram getah yang di hasilkan oleh penyadap, dan harganya pun berbeda beda ditentukan dari jarak jauh dekatnya lokasi area sadapan mereka ke Tempat Penimbangan Getah ( TP ) yang telah di sediakan oleh pihak perhutani, dan dilihat dari kualitas getah itu sendiri ( apakah kualitas A atau B) yang jelas harganya berbeda antara kualitas A dan B. Untuk harganya sekarang ini mulai dari Rp 1000/Kg s/d Rp 2000 an / kg, cukup lumayan bukan?.
Dari setiap area lahan sadap mereka para penyadap biasanya bisa menjual getahnya ke TP 4 kali dalam sebulan atau seminggu sekali (setiap hari Legi ) karena pasaran di desa kami di adakan di hari Pahing, biasanya penyadap leginya menjual getah pahingnya para ibunya pergi ke pasar,dan tiap sekali menjual biasanya mereka menjual minimal 200 s/d 300 kg, berarti dari masing masing penyadap bisa menghasilkan uang kurang lebih Rp 200.000 s/d Rp 300.000 perminggu, dan dalam satu bulan penyadap bisa menghasilkan uang sebesar Rp 800.000 s/d Rp 1,200,000. Hasil yang cukup lumayan buat orang desa bisa menutupi kebutuhan sehari hari

Di jaman sekarang dimana minyak tanah merupakan barang yang langka dan kalaupun ada harganya selangit itu justru membuka peluang baru untuk mendapatkan hasil tambahan, dari mana hasil tambahannya?, lagi lagi pohon pinus memberikan itu semua buat waraga desa , ranting kayu pinus yang sudah kering ternyata sangat banyak di cari oleh warga desa lain untuk di pergunakan sebagai kayu bakar , bahkan di desaku sendiri tidak sedikit warga yang membeli kayu bakar pinus ini untuk memasak karena memang jauh lebih ekonomis ,Jelas ini merupakan suatu peluang untuk menadapatkan uang tambahan bagi warga desa. Dengan harga yang tidak terlalu mahal yakni Rp 750 s/d Rp 1000/ikat jauh lebih hemat di bandingkan memakai minyak tanah yang harganya di desa kami sampai Rp 4000/ liter, untuk 1 ikat kayu bakar bisa di pakai kurang lebih 3 s/d 4 hari, hemat bukan ?

2 komentar:

  1. Lokasi kebun / hutan pinusnya dimana ?
    Mohon di e-mail ke hakimjakarta@yahoo.com ya soalnya kepengen tuh menghirup oksigen yang dihasilkan dari pohon pinus gitu. Terima kasih ya'

    BalasHapus
  2. Lokasinya di Desa Gunung Larang Kecamatan Salem Kabupaten Brebes Pa,

    BalasHapus